Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
Sabtu, 29 April 2017 - 20:30 |

Hidayat Nur Wahid: Tantangan Global Juga Harus Dihadapi Para Da'i

Hidayat Nur Wahid: Tantangan Global Juga Harus Dihadapi Para Da'i

Padang - Dunia ini sangat kecil di era kemajuan teknoloi global yang sangat luar biasa dan modernitas yang sangat luar biasa.  Globalisasi dan modernisasi tidak bisa dibendung harus dihadapi.  Globalisasi memiliki dampak baik dan buruk.  Dampak buruknya menjadi tantangan semua elemen masyarakat untuk menghadapinya tak terkecuali para da'i.

Hal tersebuat diungkapkan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid di hadapan para da'i peserta Dialog interaktif Ikatan Da'i Indonesia (Ikadi) Sumatera Barat dalam rangka memperingati Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW dengan tema 'Dakwah dan Tantangan Global', di Hotel Bumi Minang, kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (29/4).

"Dampak buruk globalisasi dan modernisasi yang sangat berdampak luas adalah teknologi dan media informasi atau media sosial.  Berita-berita dan kabar-kabar hoax terus mengisi ruang-ruang kita hingga ke kamar tidur melalui gadget modern termasuk stigma radikalise yang diarahkan ke Islam secara keseluruhan.," katanya.

Diutarakan Hidayat, begitulah kehidupan. Rasulullah pun dahulu mengalami pula dampak globalisasi, apalagi di era Rasululah dulu ada dua kekuatan besar Persia dan Romawi.  Kekuatan-kekuatan besar tersebut berupaya melakukan penetrasi pengaruhnya kepada dakwah Rasulullah tapi tidak sekalipun menggoyahkan Rasulullah.

"Perilaku Rasulullah wajib dijadikan teladan kita dalam menghadapai tantangan global.  Para da'i harus sadar akan hal ini dan terus berdakwah untuk mengeliminir bahkan menghilangkan stigma radikal kepada Islam," ujarnya.

Dikatakan Hidayat, patut disyukuri di era globalisasi ini, rakyat Indonesia menghadapi era keterbukaan, kuatnya informasi tapi sekaligus kuatnya hak-hak individual.  Salah satu pelaksanaan hak-hak tersebut bisa menghasilkan sesuatu yang tidak terduga. Contohnya, seorang Presiden Austria yang terpilih melalui mekanjsme terbuka yang melawan arus besar di Eropa dan Amerika yakni kelompok-kelompok yang anti imigran,  anti Islam, yang ingin memprotek penduduk asli.

"Bahkan dalam pemililan PM Belanda, partai Geerts Wilders yang terkenal menjual anti Islam dan anti imigran kalah.  Artinya, gerakan-gerakan anti Islam, anti imigran dan lainnya sudah mulai terpinggirkan," imbuhnya.

Di Indonesia, soal perbedaan sebenarnya sudah selesai dan telah dijelaskan secara gamblang pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.  

"Para aktifis dakwah para da'i-da'i mesti memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat Indonesia dan dunia.  Dakwah itu bukan memaksa orang masuk Islam.  Dakwah itu juga bukan dalam rangka menjustifikasi kejahatan. Dakwah itu adalah untuk membuka jalan, silahkan anda mau menerima atau tidak tapi inilah suara Islam, dengarkan suara Islam," tandasnya.

Sampaikan Komentar Anda

Hak Cipta © Sekretariat Jendral MPR RI 2015