Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
Jumat, 24 Februari 2017 - 09:33 |

Hidayat Nur Wahid: Umat Islam Tidak Diam Terhadap Masalah Bangsa

Hidayat Nur Wahid: Umat Islam Tidak Diam Terhadap Masalah Bangsa

Bertempat di “Jaya Suprana School of Performing Arts”, Mall of Indonesia, Jakarta, 23 Februari 2017, digelar diskusi dengan tema “Islam di Indonesia”. Acara yang dipandu langsung oleh Jaya Suprana itu menghadirkan pembicara Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh rohaniawan Franz Magnis Suseno dan beberapa tokoh Tionghoa itu, Hidayat Nur Wahid memaparkan sejarah Islam di Indonesia. Dikatakan umat Islam di Indonesia mempunyai peran yang sangat besar. Dicontohkan Sultan IX Jogjakarta sebagai sultan dari kesultanan Islam telah memberikan tanah-tanah yang ada pada bangsa ini di awal kemerdekaan. “Gelar dia adalah Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat," ujarnya.

Apa yang dilakukan Sultan IX itu juga dilakukan oleh Kesultanan Riau. Sultan Syarif Kasim memberikan tanah-tanahnya untuk Indonesia ketika negara ini berdiri. Sultan Syarif Kasim bahkan memberi wasiat agar keluarga tidak menuntut soal tanah-tanah yang sudah diberikan kepada Indonesia.

Kesultanan Islam yang memberi kontribusi kepada Indonesia juga disumbangkan oleh Kesultanan Pontianak. Pada masa kesultanan itu di bawah Sultan Hamid II, sang sultan merancang lambang negara Garuda Pancasila. “Hal demikian menunjukan menyatunya Islam dengan Indonesia,” ujar Hidayat Nur Wahid.

Lebih lanjut dikatakan, dalam masa-masa persiapan Indonesia merdeka, banyak tokoh-tokoh Islam yang menjadi anggota BPUPK. Dalam masa itu, tokoh-tokoh Islam yang berlatar belakang dari NU, Muhammadiyah, Aceh, dan lainnya sebagainya, rela menghilangkan tujuh kata dari Piagam Jakarta. “Ïslam terus berdialog hingga mencari titik tengah untuk tetap menjadi Indonesia,” tegasnya.

Pada masa mempertahankan Indonesia merdeka, peran ummat Islam tetap terdepan. Ia menceritakan bagaimana kisah peristiwa pertempuran 10 November 1945 terjadi. Pertempuran mempertahankan Kota Surabaya itu bisa berlangsung secara heroik sebab ada peran dari ulama KH Hasyim Ashary. Pendiri NU itu mengeluarkan “Fatwa Jihad” yang berisi mempertahankan kemerdekaan bagi ummat Islam wajib hukumnya. “Banyak tokoh Islam yang cinta Indonesia sehingga terjadi peristiwa heroik itu,” kata pria yang pernah nyatri di Gontor. Ketika terjadi pada masa darurat, ummat Islam yang berada di Sumatera pun mendirikan pemerintahan sementara.

Dari peristiwa  di atas menurut Hidayat Nur Wahid menunjukan ummat dan tokoh Islam peduli pada masalah bangsa. Mereka tidak tinggal diam ketika bangsa ini menghadapi masalah. “Coba bayangkan kalau ummat Islam diam atau tidak melakukan apa-apa,” ujar Hidayat Nur Wahid. “Meski memiliki peran besar namun ummat Islam tidak mau menang sendiri,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Hidayat Nur Wahid mengatakan, agama Islam masuk ke Indonesia secara damai.  Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam yang moderat dan toleran. Ini bisa terjadi karena penyebar Islam yang datang ke Indonesia datang dari berbagai wilayah. Sebagai agama yang toleran maka agama ini bisa berkembang tanpa peperangan, “Islam berkembang dengan dakwah,” paparnya. “Agama Islam tidak anti budaya local,” tambahnya.

Dengan demikian Islam mampu beradaptasi dengan nilai-nilai lokal. Disebut para wali menciptakan wayang sebagai alat menyebarkan dakwah. “Masjid-masjid di Indonesia pun banyak yang bercorak budaya lokal bukan budaya dari Timur Tengah,” paparnya. Islam di Indonesia mampu bertemu dengan budaya lokal yang berbeda dan hidup berdampingan. “Potensi seperti ini perlu dijaga dan dikokohkan untuk Indonesia,” ujarnya.

Sebagai agama mayoritas maka agama ini dipeluk oleh Presiden, Wakil Presiden, Panglima TNI, Kapolri, Menkopolkam, dan lain sebagainya. Organisasi terbesar, NU dan Muhammadiyah, pun juga organisasi yang bernafas Islam. “Dengan demikian tak benar kalau Islam disebut sebagai agama radikal,” katanya. Diakui memang ada pihak-pihak tertentu yang terjebak pada perilaku radikal dan fundamental namun perilaku itu justru merugikan ummat Islam. “Kita yang menjadi korban dari perilaku itu,” ujarnya. 

Sampaikan Komentar Anda

Hak Cipta © Sekretariat Jendral MPR RI 2015