Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
Kamis, 27 April 2017 - 18:35 |

Mahyudin: Sosialisasi Empat Pilar MPR Langkah Menghadapi Tantangan Kebangsaan

Mahyudin:  Sosialisasi Empat Pilar MPR Langkah Menghadapi Tantangan Kebangsaan

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bekerjasama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Palangkaraya, Kamis sore (27/4/2017), menggelar sosialisasi Empat Pilar MPR. Sosialisasi yang diikuti 400 peserta, terdiri dari anggota KNPI, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum ini berlangsung di GPU Tambun Bungai, Jl. Tambun Bungai, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Wakil Ketua MPR, Mahyudin, S.T., M.M., membuka acara sosialisasi Empat Pilar MPR ini. Sebagai pemateri, selain Mahyudin juga anggota MPR RI dapil Kalimantan Tengah HJ. Agati Sulie Mahyudin, S.E., dan anggota MPR Fraksi PAN Hang Ali Saputra Syah Pahan, S.H.

Dalam sambutannya, Mahyudin menjelaskan bahwa sosialisasi ini diperlukan karena MPR melihat masih ada ancaman terhadap negara ini. Dari dalam negeri, sekarang ini, diam-diam penyebaran paham-paham komunis masih saja ditemukan. Bahkan di kaca mobil secara terang-terangan ditempel simbol komunis, palu arit.

Juga pengaruh globalisasi menyebab nilai-nilai yang ada di masyarakat menjadi luntur. Dulu budaya gotong royong mewarnai masyarakat Indonesia, karena pengaruh budaya luar berubah menjadi individualis.  Akibat globalisasi ini, kata Mahyudin, semua dianggap modern, padahal itu kadang tidak sesuai dengan budaya kita, budaya Indonesia.

Namun, menurut Mahyudin, walaupun ideologi kita menghadapi berbagai ujian, tapi alhamdulillah ideologi kita lulus dari ujian. "Buktinya, kita masih utuh sebagai negara kesatuan Republik Indonesia. Kalau gagal menghadapi ujian itu maka kita sudah bercerai berai," kata Mahyudin pada pers usai acara sosialisasi tersebut.

MPR melaksanakan sosialisasi Empat Pilar ini, jelas Mahyudin, sebagai langkah antisipasi terhadap tantangan kebangsaan yang kita hadapi sekarang. Tantangan kebangsaan itu baik internal maupun ekternal.

Secara internal, misalnya, kuatnya rasa kesukuan, kedaerahan, fanatisme, pemahaman agama yang keliru sehingga  menimbulkan radikalisme, penegakan hukum yang dianggap tidak optimal atau tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Kemudian, menurut Mahyudin, tantangan secara ekternal kita menghadapi globalisasi. Negara yang dikenal budaya gotong royong, bersaudaraan yang kuat, berubah menjadi invidualistik. 

Kalau masalah itu  terus terjadi, kata Mahyudin, maka persatuan kita terancam. Oleh karena itulah MPR melaksanakan sosialisasi agar rakyat Indonesia betul-betul mencintai bangsanya, betul-betul memahami ideologi negaranya, sehingga persatuan dan kesatuan tak tergoyahkan, walaupun diganggu oleh negara-negara asing.

Sampaikan Komentar Anda

Hak Cipta © Sekretariat Jendral MPR RI 2015