Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
Sabtu, 26 Agustus 2017 - 13:28 |

Pelajar Harus Mempelajari Dan Peduli Soal Ketatanegaraan

Pelajar Harus Mempelajari Dan Peduli Soal Ketatanegaraan

Wakil Ketua MPR RI H. Mahyudin, S.T., M.M., Jumat (25/8), memberi pengantar dan membuka  Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dihadiri oleh anggota MPR RI diantaranya Popong Otje Djundjunan (Fraksi Golkar), H Widan (Anggota MPR dari unsur DPD), Muhaimin (Kepala Dinas Pendidikan Kota Balikpapan), dan Ririen Fridayanti (Kepala Sekolah SMAN 5 Balikpapan), serta diikuti oleh sekitar 300 peserta dari kalangan pelajar SMAN 5 Balikpapan, Kalimantan Timur, di Aula SMAN 5 Balikpapan.

Di depan para peserta sosialisasi yang terdiri dari para pelajar, Wakil Ketua MPR Mahyudin menjelaskan panjang lebar mengenai apa itu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), apa fungsi dan tugas-tugasnya. Selain memiliki tugas-tugas konstitusional, jelas Mahyudin, MPR sebagai lembaga negara juga mempunyai tugas menyosialisasikan Empat Pilar, sesuai perintah UU No. 17 Tahun 2014 tentang MD3 (MPR, DPR, DPD, dan DPRD).

Kepada para peserta pelajar, Mahyudin mengungkapkan bahwa dirinya bersemangat jika melakukan kegiatan pemahaman nilai-nilai luhur bangsa kepada pelajar SMA sebagai generasi penerus bangsa. Memberikan pemahaman kepada pelajar SMA sangat efektif, sebab jika para pelajar ini memahami betul nilai-nilai luhur bangsa maka mereka akan bijak apabila kelak  mereka menjadi pejabat publik.

"Jika sejak remaja dididik dengan pemahaman nilai-nilai luhur bangsa yang kuat maka kita tidak akan khawatir lagi dengan keadaan bangsa kita ke depan. Sebab generasi muda yang dididik nilai luhur bangsa pasti sebagiannya akan menduduki posisi-posisi penting di negeri ini," katanya.

Sekarang ini, lanjut Mahyudin, banyak sekali masalah yang merundung bangsa ini, diantaranya  yang sangat mengkhawatirkan adalah makin maraknya korupsi, narkoba dan terorisme. Dengan terbentuknya karakter bangsa yang baik dan tertanam kuat di sanubari generasi muda bangsa, maka setidaknya bangsa memiliki harapan akan muncul pemimpin-pemimpin negeri ini yang mampu menjadikan republik ini jauh lebih baik.

Mahyudin juga mengingatkan dan sangat berharap agar para pelajar terus mempelajari  nilai-nilai luhur dan seputar ketatanegaraan Indonesia, antar lain simbol dan lambang negara.

Di akhir sesi, Wakil Ketua MPR RI Mahyudin memberikan tantangan kuis menarik soal ketatanegaraan bangsa.  Kuis dadakan ini kerap dilakukannya setiap melakukan sosalisasi kepada generasi muda, baik pelajar atau mahasiswa.  Pertanyaan yang diberikan lebih bersifat pertanyaan kejutan. Tidak ada perencanaan sama sekali sebelumnya.

Dengan adanya unsur kejutan tidak ada perencanaan ini, Mahyudin berharap para pelajar mampu menjawab di luar kepala. Beberapa pertanyaan ternyata dijawab dengan lugas.  Bahkan bunyi lengkap Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 dijawab dengan sangat lancar.  Mahyudin sangat lega dari beberapa pertanyaan yang disampaikannya, semua dijawab lancar oleh pelajar.

"Ini menunjukkan para pelajar kita masih peduli untuk mempelajari soal ketatanegaraan Indonesia. Itu sangat baik dan untuk para guru atau pendidik agar potensi ini diolah dan diasah secara lebih terarah lagi," ujarnya.

Tanpa Pancasila Indonesia Tidak Ada 

Usai memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada SMAN 5 Balikpapan, Wakil Ketua MPR RI Mahyudin melanjutkan lawatannya ke Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STITBA). Di sini, Mahyudin juga memberikan pengantar serta membuka acara sosialisasi Empat Pilar MPR RI, bertempat di Aula STIBA Balikpapan, Kalimantan Timur (25/8).

Acara sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini dihadiri juga oleh anggota MPR diantaranya Popong Otje Djundjunan (Fraksi Golkar), Aji Muhammad Mirza Wardana (anggota MPR dari unsur DPD), KH. Ali Kholil, Halimi Firdosi Direktur STIBA Balikpapan, Perwakilan TNI AU, Kodim, Polda Kalimantan Timur, dan 400 lebih mahasiswa dan dari berbagai jurusan.

Kepada para mahasiswa yang memenuhi Aula STIBA Balikpapan itu, Mahyudin mengungkapkan masih ada yang menggelorakan ideologi komunis, meski sudah ada Ketetapan MPR No. XXV Tahun 1966 tentang Larangan Penyebaran Ideologi Komunis. Buktinya, simbol palu arit muncul di mana-nama, bahkan dengan kasat mata lambang partai terlarang itu ditempel di kaca-kaca mobil.

Walau pun terus-menerus mendapat rongrongan, tapi ideologi Pancasila yang digali dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia ini tetap bertahan. Menurut Mahyudin, Bung Karno, presiden pertama Indonesia, pernah menawarkan Pancasila menjadi ideologi dunia. Karena, Pancasila dianggap ideologi yang mampu mempersatukan bangsa.

"Jadi, Tanpa Pancasila Persatuan Bangsa Indonesia Tidak Ada," ungkap Mahyudin. Pancasila untuk menangkal paham-paham yang ingin memecah belah Indonesia atau paham-paham yang ingin mengganti ideologi bangsa kita," katanya.

Hadir dalam acara sosialisasi ini anggota MPR antara lain: Popong Otje Djundjunan (Fraksi Golkar), Aji Muhammad Mirza Wardana (anggota MPR dari unsur DPD), KH. Ali Kholil, Halimi Firdosi Direktur STIBA Balikpapan, Perwakilan TNI AU, Kodim, Polda Kalimantan Timur, dan 400 lebih mahasiswa dan dari berbagai jurusan. -JAS

Sampaikan Komentar Anda

Hak Cipta © Sekretariat Jendral MPR RI 2015