Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
Senin, 02 Oktober 2017 - 19:30 |

‘Sentilan’ Kecil Dan Motivasi Ala OSO Kepada Generasi Muda Bangsa

‘Sentilan’ Kecil Dan Motivasi Ala OSO Kepada Generasi Muda Bangsa

Tanjung Pinang - Generasi muda bangsa Indonesia adalah penerus kepemimpinan bangsa, itu tidak bisa terbantahkan.  Maju mundurnya bangsa Indonesia tergantung dari kualitas generasi muda, itu juga adalah fakta yang tak bisa terbantahkan. Intinya Indonesia membutuhkan generasi-generasi penerus yang berkualitas baik.

Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta melihat, untuk menciptakan generasi muda yang berkualitas maka dibutuhkan keteladanan yang berkualitas dan juga baik tentunya.

“Banyak sekali contoh baik dan buruk di negeri ini, yang saya maksud adalah, generasi muda harus mengambil contoh baik-baik jangan mencontoh yang buruk-buruk,” katanya, dalam sambutannya dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada sekitar 500 lebih peserta tokoh masyarakat, tokoh agama, birokrat, mahasiswa dan pelajar se provinsi Kepulauan Riau, di aula Kompleks Perkantoran Gubernur Kepulauan Riau, Senin (2/10).

Diungkapkan Oesman Sapta, untuk mencapai hal tersebut, kesadaran yang tinggi akan pentingnya peran generasi muda di masa datang juga harus datang dari kesadaran diri generasi muda itu sendiri.  Kesadaran untuk melatih diri menuju kualitas diri.

“Generasi muda jangan berhenti berjuang. Generasi muda mesti terus menerus memperhatikan dan mempelajari tentang kehidupan,” ujarnya.

Oesman Sapta menceritakan pengalaman pribadinya yang sangat penuh perjuangan dalam meniti kehidupan baik pahit dan manis dahulu.  Perjuangan seorang Oesman Sapta dimulai sejak masa remaja.  Sejak kecil dirinya harus berjibaku dengan kerasnya dan ‘bengis’nya kehidupan.

“Saya waktu kecil untuk mencari uang harus berjualan rokok di seputaran pelabuhan.  Lalu banting setir menjadi buruh pengangkut karet.  Semua pahit dan getirnya kehidupan saya jalani dengan tak kenal kata menyerah. Itulah kehidupan harus dihadapi. Tapi, sedikit kritik kebiasaan generasi muda sekarang, kalau kumpul untuk sesuatu yang kurang manfaat banyak sekali dan antusias tapi kalau giliran mengaji responnya sedikit, kalau ke gereja responnya sedikit.  Itu harus diubah, generasi muda Indonesia harus menjadi lebih baik,” ucapnya.

Satu lagi, menurut Oesman Sapta, satu hal yang sangat penting untuk dipelajari, pahami dan amalkan yakni Pancasila. Dalam Pancasila, bangsa ini tidak lagi mempersoalkan perbedaan, semua perdebatan soal beda-beda suku, agama, ras, bahasa, warna kulit sudah selesai.

“Intinya semua soal perbedaan bangsa ini jangan lagi diperebatkan dan menjadi konflik.  Jangan mau kita diadu domba antar sesama bangsa Indonesia oleh para oknum-oknum ‘kurang ajar’ yang berniat menghancurkan bangsa kita dengan cara mengadu-ngadu kita sehingga berkonflik.  Jangan sekali-kali kita terpancing,” imbuhnya.

Bangsa-bangsa asing, lanjutnya, selalu berusaha mencari celah bagaimana mengintervensi bangsa Indonesia terutama dibidang ekonomi.  Tidak berhasil di ekonomi maka moral bangsa menjadi sasaran selanjutnya, dirusaknya moral anak-anak generasi bangsa salah satunya melalui narkoba.

“Itu yang harus diperhatikan, waspada dan hati-hati dalam bergaul.  Sebab sekali lagi generasi muda adalah harapan bangsa penerus kepemimpinan bangsa. Terus pelajari dan pahami serta amalkan Pancasila,” tandasnya.

Sampaikan Komentar Anda

Hak Cipta © Sekretariat Jendral MPR RI 2015