.menu_preview{ /* display:none;*/ }

Lukman Edy: Sisipkan Nilai Empat Pilar Dalam Pentas Seni Dan Budaya

Minggu, 18 Des 2016 - 00:40

Di hadapan ratusan warga Kelurahan Tampan, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, 17 Desember 2016, anggota MPR dari Fraksi PKB, Lukman Edy; dalam Sosialiasi Empat Pilar MPR lewat pentas seni dan budaya, bertanya, "apa kegiatan yang paling menarik untuk mengumpulkan masyarakat?"

Dirinya menjawab bila di tempat komunitas Jawa biasanya membikin acara pertunjukan wayang kulit. "Di daerah transmigrasi yang penduduknya dari Jawa pun kita mengadakan pertunjukan wayang kulit," ujarnya. Kemudian kalau di Jawa Barat mengadakan pertunjukan wayang golek.

Lebih lanjut Lukman Edy mengatakan, "nah kalau di Kota Pekanbaru pentas seni apa yang cocok dengan budaya masyarakat Minang, Melayu, dan Batak." "Salah satunya yang cocok adalah Kesenian Irama Minang (KIM)," paparnya.

Menurut Lukman Edy, pada masa Wali Songo,  para wali menggunakan pentas wayang untuk mensyiarkan agama Islam. Padahal pada masa itu ada anggapan ada beberapa hal dalam wayang  yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. "Meski demikian, oleh Wali Songo beberapa hal yang tak sesuai dengan nilai Islam itu diluruskan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam," ujarnya.

Dirinya mengharap agar dalam KIM juga digunakan untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan. "Kita masukan nilai-nilai Empat Pilar," tambahnya.

Ditegaskan oleh Lukman Edi, sosialisasi dengan metode lewat pentas seni dan budaya akan diteruskan secara lebih massif.

Dalam kesempatan yang sama, anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar, Idris Laena, menuturkan sosialisasi lewat pentas seni dan budaya bisa dilanjutkan di daerah-daerah lainnya.

Kepada hadirin acara itu, Idris Laena bertanya, "apakah ada ideologi yang bisa menyatukan sebuah bangsa?" pertanyaan tersebut dijawabnya, tidak. Ia mencontohkan Uni Soviet yang memiliki ideologi komunis dan dijaga oleh tentara namun negara itu pecah menjadi banyak negara.

Lebih lanjut dikatakan, Timur Tengah pun demikian. Negara di kawasan itu memiliki banyak kesamaan dalam budaya, bahasa, bahkan agama. namun kawasan itu selama ini mengalami perpecahan dan konflik. "Dengan demikian ideologi, budaya, bahkan agama tak bisa menyatukan," ujarnya.

Menurut Idris Laena, yang bisa menyatukan sebuah bangsa adalah perasaan senasib sebagai sebuah bangsa, nasionalisme. Bangsa Indonesia disatukan oleh perasaan senasib yang kemudian dikuatkan dengan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. "Empat hal tersebut selama ini telah kita amalkan," pungkasnya.


Baca Juga

Kontak