image

Bertemu Masyarakat Palopo, Lestari Moerdijat Ajak Kaum Perempuan Percaya Diri

Senin, 25 Oktober 2021 18:38 WIB

Kehadiran Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat SS., MM., di Bandar Udara I Lagaligo Bua, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, 24 Oktober 2021, disambut meriah dengan tarian adat. Tak hanya itu, ratuusan orang dengan naik mobil dan bus mengiringi perjalanan kunjungan kerja politisi dari Partai Nasdem itu. Kehadiran Lestari Moerdijat ke Palopo selain melakukan kunjungan kerja juga untuk Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau Empat Pilar MPR.

Wali Kota Palopo H. Muhammad Judas Amir  mengucapkan selamat datang kepada Lestari Moerdijat. “Kita patut berbangga sebab bisa bertemu dengan Wakil Ketua MPR”, tuturnya. Dikatakan kehadiran beliau diharap mampu membawa keberkahan bagi masyarakat Palopo. Dalam masa-masa seperti ini, Judas Amir berdoa agar semua diberi kesehatan sehingga dapat menunaikan tugas negara dengan baik dan lancar.

Lestari Moerdijat di hadapan masyarakat yang berkumpul di Aula Rumah Jabatan Walikota Palopo mengatakan dirinya ke kota ini sudah dua kali. “Kali pertama pada tahun 1998”, ungkapnya. Dirinya hari itu merasa gembira sebab bisa berkunjung kembali ke Palopo. “Senang bisa berada di kota yang indah ini”, ujarnya.

Dalam kesempatan itu perempuan yang akrab dipanggil Mbak Ririe itu mengatakan dibanding laki-laki, perempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang rentan terhadap kekerasan. Dalam masa pandemi banyak orang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Bila PHK ini mengena kaum perempuan, menurut Lestari Moerdijat, akan membuat beban kaum perempuan semakin berat. Perempuan, kaum ibu, disebut merupakan sosok istri bagi suami, dia juga mencari nafkah, serta guru bagi anak-anak di rumahnya, “Bila perempuan kena PHK maka beban kehidupan yang ditanggung akan semakin berat”, ungkapnya. Perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga akan menanggung hidup suami, anak, dan dirinya sendiri. Bila masalah itu tak tertangani selanjutnya akan menjadi beban mental bagi perempuan.

Akibat banyaknya perempuan yang mengalami beratnya beban kehidupan, berdasarkan penelitian yang ada, membuat mereka kerap memimpin gerakan-gerakan yang sifatnya melawan. “Hal demikian terjadi akibat tekanan hidup”, ucapnya.

Nasib perempuan tidak hanya itu dalam soal kemalangannya. Dalam pemilu disebut ada gerakan-gerakan yang menghendaki agar tidak memilih kaum perempuan. Perempuan dianggap tidak mampu dalam dunia politik.

Menanggapi hal yang demikian Lestari Moedijat mengajak kepada semua untuk memperhatikan kelompok perempuan. Didorong agar para politisi memperjuangakan kaum perempuan. “Sebab ke depan pemilih terbesar adalah kaum perempuan dan kaum milineal”, paparnya. “Ini menjadi pekerjaan rumah bagi para wakil rakyat”, tambahnya.

Memperhatikan kaum perempuan menurut Lestari Moerdijat bisa dilakukan dengan cara-cara yang sederhana. “Saya mengajak kaum perempuan untuk berdandan”, ujarnya. “Mengajari bagaimana menggunakan jilbab yang benar”, tammbahnya. Hal demikian dilakukan sebagai upaya untuk membangun rasa percaya diri. “Bila percaya diri ketika mendapat kepercayaan, perempuan akan berani maju”, tuturnya.


Anggota Terkait :

LESTARI MOERDIJAT S.S., M.M.