image

Menjaga Kebhinnekaan Dengan Pagelaran Seni Budaya Banyumasan ‘Ebeg Dan Kentongan’

Minggu, 10 Desember 2017 19:10 WIB

Sosialisasi melalui pentas seni budaya adalah salah satu bentuk apresiasi dan langkah konkret MPR RI terhadap warisan budaya, khususnya seni budaya tradisional yang telah menjadi kekayaan intelektual bangsa Indonesia. Dengan cara mengadakan pagelaran seni budaya sebagai salah satu metode sosialisasi Empat Pilar MPR RI (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika). 

Ibu Kota Kabupaten Banyumas, Purwokerto adalah salah satu daerah tempat penyelenggaraan Seni Budaya dalam rangka Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Sekretariat MPR RI bekerjasama dengan Pemda. Kabupaten Banyumas menyelenggarakan Pagelaran Seni Budaya dengan menampilkan kesenian Ebeg (Kuda Lumping) dan Kentongan, pada Minggu (10/12/2017) di Desa Beji Kecamatan Kedung Banteng, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ini adalah salah satu pagelaran seni budaya yang sudah diselenggarakan oleh MPR," kata Kepala Bagian Pemberitaan Sekretariat MPR RI Muhamad Jaya, S.IP., M.Si, saat menyampaikan laporan selaku ketua penyelenggara Pagelaran. 

Lebih lanjut Muhamad Jaya mengungkapkan, sosialisasi melalui seni budaya merupakan salah satu dari berbagai metode yang sudah dilaksanakan. Sosialisasi Empat Pilar sudah dilakukan dengan berbagai metode, "Karena seni budaya nusantara sangat variatif, maka saat MPR melakukan sosialisasi melalui metode ini akan disesuaikan dengan budaya masing-masing daerah untuk mempertahankan persatuan serta menjaga masuknya beragam budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia sehingga perlu diperkuat lagi kebhinnekaan kita  " jelasnya.

Atas nama pimpinan MPR RI, Seni Budaya Banyumasan dengan Pagelaran kesenian Ebeg (Kuda Lumping) dan Kentongan di Desa Beji Purwokerto ini dibuka oleh anggota MPR RI: Drs. Fadholi (Fraksi Nasdem). Dan dihadiri  Salikun Kepala Desa Beji yang mewakili Bupati Banyumas, anggota DPRD Kabupaten Banyumas, Kepala Bagian Pemberitaan Sekretariat MPR RI: Muhamad Jaya, S.IP., M.Si., Sugeng Suparwoto sebagai narasumber sosialisasi dan para kepala desa dari kecamatan Kedung Banteng, para tokoh masyarakat, dan ratusan warga setempat.

Fadholi yang juga anggota Badan Anggaran MPR dalam sambutannya menyatakan dengan diadakannya pagelaran khas Banyumas ini. "Kita harus menjaga kerukunan, ketenteraman, sebagaimana  filosofi yang terkandung dalam kesenian Ebeg untuk menjaga kekompakan antara penari dan musik. Dan berharap agar kita dapat menjaga kebhinnekaan serta mempertahankan NKRI," kata Fadholi.

Dalam kesempatan yang sama, Sugeng Suparwoto sebagai narasumber sosialisasi ini menyampaikan bahwa negara ini kokoh berdiri karena kita memiliki Pancasila, oleh karena itu ia mengharapkan sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini perlu lebih digalakan lagi agar bangsa ini tidak tergerus oleh masuknya kebudayaan asing.  Dan mari  kita pertahankan kreatifitas kebudayaan kita seperti kesenian Banyumasan ini yang sudah menjadi kekayaan intelektual bangsa Indonesia sudah diakui oleh dunia, ungkap Sugeng.

Sedangkan Salikun kepala desa Beji yang mewakili Bupati Banyumas, berharap agar tontonan pagelaran ini bisa menjadi tuntunan, apalagi Empat Pilar MPR sebagai acuan pada pagelaran seni budaya, dan melalui metode sosialisasi ini kita bisa menjaga kebhinnekaan. 

Mewakili masyarakat Banyumas Salikun mengucapkan terimakasih pada Sekretariat MPR RI yang memilih Kota Purwokerto sebagai tempat sosialisasi serta mengharapkan kepada masyarakat agar filosofi yang terkandung dalam pagelaran ini tidak hanya sebagai tontonan tapi juga dapat dituangkan pada kehidupan sehari-hari.

Ebeg dan Kentongan adalah kesenian yang sangat terkenal di Purwokerto itu digelar dari pagi hingga sore serta disaksikan oleh ratusan masyarakat yang berdatangan dari berbagai kalangan dari daerah Banyumas dan sekitarnya. (JAZ)